Monday, 1 June 2015

Puisi Seonggok Jagung

Seonggok Jagung-W.S Rendra

 


 


Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda
yang kurang sekolahan.

 

 

Memandang jagung itu,
sang pemuda melihat ladang;
ia melihat petani;
ia melihat panen;
dan duatu hari subuh,
para wanita dengan gedongan
pergi ke pasar...
Dan ia juga melihat
suatu pagi hari
di dekat sumur
gadis-gadis bercanda
sambil menumbuk jagung
menjadi maisena.
Sedang di dalam dapur
tungku-tungku menyala.
Di dalam udara murni
tercium bau kue jagung.

 

 

Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda.
Ia siap menggarap jagung.
Ia kemungkinan
otak dan tangan
siap bekerja.

 

Tetapi ini:
seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda tamat SLA.
Tak ada uang, tak bisa menjadi mahasiswa.
Hanya ada seonggok jagung di kamarnya.

 

 

Ia memandang jagung itu
dan ia melihat dirinya terlunta-lunta.
Ia melihat dirinya ditendang dari discotique.
Ia melihat sepasang sepatu kenes di balik etalase.
Ia melihat saingannya naik sepeda motor.
Ia melihat nomor-nomor lotre.
Ia melihat dirinya sendiri miskin dan gagal.
Seonggok jagung di kamar
tidak menyangkut pada akal,
tidak akan menolongnya.

 

 

Seonggok jagung di kamar
tak akan menolong seorang pemuda
yang pandangan hidupnya dari buku,
dan tidak dari kehidupan.
Yang tidak terlatih dalam metode,
dan hanya penuh hafalan kesimpulan.
Yang hanya terlatih sebagai pemakai,
tetapi kurang latihan bebas berkarya.
Pendidikan telah memisahkan dari kehidupan.
Aku bertanya:
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
di tengah kenyataan persoalannya?
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya mendorong seseorang
menjadi layang-layang di ibukota
kikuk pulang ke daerahnya?
Apakah gunanya seseorang
belajar filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran,
atau apa saja,
bila pada akhirnya,
ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata:
"Di sini aku merasa asing dan sepi!"

 

 

TIM, 12 JULI 1975

 

 

 

Source by :

Pengarang : Rendra
Penerbit buku : Burung Merak Press
Desain Sampul : DS Priyadi


postingan ini telah di setujui oleh Bapak Edy Haryono, selaku editor buku "
Rendra Potret Pembangunan Dalam Puisi" melalui SmS

 

No comments:

Post a Comment